“TANTANGAN
ERA DIGITAL BAGI PENULIS & PENERBIT BUKU”
Oleh : Tri
Prasetyo *
Dalam era perkembangan
teknologi informasi saat ini, di mana akses internet sudah sedemikian luasnya
telah memungkinkan semua orang bisa mencari informasi dalam hal apa pun. Begitu
juga perkembangan media pendukungnya seperti
gadget dengan berbagai aplikasinya yang semakin lengkap dan harga yang
semakin terjangkau, juga membawa perubahan tersendiri dalam pola masyarakat
untuk mendapatkan informasi. Ya, semua orang kini memungkinkan bisa terhubung
dengan cepat sekaligus mendapatkan ruang terbuka untuk berekspresi dan berbagi
informasi. Era ini tentu membawa perubahan pula dalam dunia penulisan dan penerbitan buku di
Indonesia serta pergerakan pola pembacanya.
Jika sebelumnya secara umum
masyarakat lebih dominan mencari informasi lewat koran, majalah, maupun buku,
maka kini mereka lebih praktis mencari informasinya lewat internet. Jika
sebelumnya mereka membaca buku dalam bentuk printbook
saja, maka dengan era digital kini sebagian dari mereka sudah bergeser membaca
ebook. Begitu juga kalau sebelumnya membeli buku via toko buku konvesional dan
modern saja, kini sebagian pembaca lebih memilih untuk membeli buku via toko
buku online yang sudah banyak
menjamur. Bahkan distributor yang selama ini menjadi mitra penerbit dalam
mendistribusikan bukunya secara nasional pun sudah ada yang fokus di buku-buku ebook dengan sistem penjualan online. Dengan perubahan yang sedang
berjalan tersebut, bagaimanakah tantangan dan peluang ke depannya ?
Esensi
sebuah Buku adalah Informasi untuk Pembaca
Esensi sebuah buku pada dasarnya adalah
informasi. Dalam konteks sebagai media informasi, maka ia akan berusaha
menggarap tema-tema yang dibutuhkan oleh pembaca dan benar-benar menyajikan
bacaan yang berkualitas bagi pembaca yang disasarnya secara tepat. Nah, selama manusia masih membutuhkan
informasi, sejatinya industri ini tidak akan pernah mati, bukan ? Sehingga
posisi buku dalam bentuk printbook atau
ebook tidak akan mengubah esensinya
informasi yang ingin disampaikan kepada pembaca, melainkan hanya berubah
medianya saja yang dulu dari kertas kini menjadi digital. Bahkan dalam konteks
sekarang ini, ebook justru sudah dimanfaatkan
untuk mendokumentasikan atas buku-buku yang sudah tidak beredar lagi di toko buku
karena berbagai pertimbangannya.
Yang kedua, mau menggunakan media printbook atau ebook, secara prinsip kerja dalam penggarapan sebuah naskah hingga
menjadi materi siap cetak adalah sama bagi penulis dan penerbit. Ada proses
perumusan konsep untuk menggali kebutuhan pembaca dan membuat formula yang pas
dan tepat di tengah kompetisi yang ada, penggarapan naskah bersama penulis yang
sesuai dengan kompetensinya, proses editing di redaksi dengan standartnya,
penggarapan setting buku, desain cover, pengajuan ISBN, hingga materi sudah benar-benar
siap cetak pada dasarnya sama.
Apakah pergerakan ebook sudah
sedemikian cepatnya seperti di Barat ? Untuk konteks di Indonesia tidaklah
demikian. Karena masih banyak persoalan di dalamnya seperti infastruktur, budaya,
pola masyarakat, dan lain sebagainya.
Memang, ebook sudah dijadikan media
bagi pembaca, namun untuk saat ini ebook
masihlah ibarat bayi. Sesuatu yang sudah lahir dan kelihatan lucu namun masih
perlu banyak waktu untuk menuju dewasa.
Maka persoalan pergeseran di atas
bukanlah hal yang perlu ditakutkan, dan wajar saja dalam sebuah perubahan
seiring dengan perkembangan teknologi . Tinggal tetap harus dibutuhkan
penyesuaian dan senantiasa mengikuti pergerakan dan dinamika pembaca yang ada.
Bukankah buku tersebut ditulis dan diterbitkan memang untuk pembaca yang
disasarnya ? Jikapun ternyata kebetulan
tidak diterima, jangan-jangan hal tersebut bukan bagian karena pergeseran pola pembaca ini, melainkan
ketidakmampuan pelaku perbukuan dalam menjawab kebutuhan informasi masyarakat
pembaca yang disasarnya ? Atau ketidakmampuan mengikuti arah minat pembaca yang
ada ?
Era digital
dan aspek positif bagi dunia Penulisan & Penerbitan
Jika melihat
kecenderungan pembaca muda saat ini dalam mencari informasi dan berkespresi, gadget agaknya menjadi media yang lebih
sering digunakan. Hal ini karena gadget menawarkan kemudahan, kepraktisan,
kecepatan, dan kesenangan bagi si penggunannya termasuk bagi penulis.
Tantangan bagi penulis adalah bisakah mereka
memanfaatkan atas berbagai kemudahan akses dan ketersediaan perangkat yang
semakin canggih tersebut untuk lebih mendukung produktifitas dalam menulis?
Baik dalam mencari berbagai sumber informasi dan refferensi pendukung
tulisannya hingga ke media penulisannya itu sendiri. Aplikasi untuk mencatat
hal-hal yang menarik yang kita temui, menelusuri informasi pendukungnya yang
ingin kita ketahui, serta membangun komunikasi dan interaksi langsung dengan
pembacanya sudah menjadi hal yang bisa dilakukan saat ini. Tinggal dibutuhkan
kesadaran dan kemauan untuk ke sana.
Lahirnya penulis-penulis
muda berbakat yang awalnya berbasis blog, media sosial, atau yang lain, salah
satunya terbentuk dari mereka yang hidup dalam era gadget ini. Ya, kalau dulu
ruang untuk menulis sangat terbatas, kini dengan media yang ada mereka bisa
bebas menulis dengan caranya, bebas menampilkan kekhasannya masing-masing,
dipublikasikan sendiri lewat media yang mereka punyai, dibaca oleh banyak
orang, dan menjadi idola baru bagi pembacanya ketika tulisannya berhasil diterima
dengan baik sesuai dengan target pembaca yang disasarnya.
Dari situlah kemudian menjadi
pijakan dasar pengembangan ke karya selanjutnya (dibidik penerbit, diincar produser film, menjadi bahan di
seminar, pelatihan, dan lain sebagainya).
Dalam industri penerbitan
buku (baik printbook maupun ebook), konteks era keterbukaan
informasi ini sangat memudahkan penerbit untuk menggali berbagai informasi yang
diperlukan, menggai potensi penulis-penulis berbakat, menggali kecenderungan
kebutuhan pasar pembaca, sekaligus menjadikan media informasi, publikasi, dan promosi yang efektif. Tinggal
bagaimana si penerbit tersebut bisa mengoptimalkannya.
Memang, kecepatan
perubahan seringnya lebih cepat dari kecepatan kita untuk berubah. Sehingga
kadang kita lebih banyak tergagap atas kondisi yang ada dan cenderung terlambat
untuk mempelajari hal-hal baru. Sementara dalam era informasi yang semakin
terbuka, sebuah keberhasilan itu faktor terbesarnya hanya ditentukan siapa yang
mau lebih cepat belajar saja !
Salam Kreatif !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar