Selasa, 10 Februari 2015

“SEMUA ORANG BISA JADI PENULIS BUKU”



“SEMUA ORANG BISA JADI PENULIS BUKU”
Oleh : Tri Prasetyo (TP) *

Dalam berbagai kesempatan dan diskusi penulisan, beberapa pertanyaan mendasar yang senantiasa muncul dari para peserta (calon penulis maupun para penulis) pada dasarnya hampir sama.  Misalnya tentang anggapan menulis adalah bakat, adanya anggapan penulis baru susah menembus penerbit, kompetensi penulis yang berbasis praktisi dan akademisi, dan banyak hal lainnya. Mungkin inilah berbagai hal yang selama ini menjadi semacam stigma dalam dunia penulisan buku. Sehingga dunia penulisan buku seakan menjadi ruang yang sulit ditembus. Padahal ruang dan kesempatan untuk jadi penulis buku masih sangat terbuka lebar. Bahkan menurut kami semua orang pada dasarnya punya kesempatan jadi penulis buku. Untuk  itu, di edisi ke-3 ini kami akan bahas tentang berbagai pertanyaan mendasar penulis / calon penulis (X) ke penerbit (Y) tentang berbagai hal tersebut.  
X : “Apakah penerbit Anda tidak takut menerbitkan naskah dari para penulis baru ?” 

Y : “Sama sekali tidak. Sebab tolak ukurnya sebuah naskah bisa kami terbitkan bukan pada  persoalan ia penulis baru atau lama, namun lebih pada kompetensi bidang pada naskah yang dimiliki penulis. Artinya sepanjang si penulis memiliki potensi dan kompetensi bidang yang sesuai dengan kebutuhan pasar pembaca yang disasar penerbit, maka tidak menutup kemungkinan naskahnya bisa diterbitkan.”

X : “Tapi sebuah buku kan salah satunya ditentukan dari nama besar penulis ?”

Y : “Tidak semua katagori buku ditentukan hanya dari nama besar penulis. Namun dominasinya tetap dari konten isi buku yang benar-benar bisa memberikan informasi yang dibutuhkan pembaca secara luas. Sebab buku yang baik adalah buku yang bisa menemukan pasar pembacanya secara luas. Memang nama besar juga tetap mengambil peran di situ, tapi sifatnya tidak mutlak. Jadi pendekatannya tetap harus ke kualitas naskah yang harus sesuai dengan kebutuhan pasar pembaca yang disasarnya.”

X : “Bagaimana jika si penulis hanya seorang praktisi yang  tidak memiliki basic akademik  ?”

Y : “Praktisi yang fokus di bidangnya, mau terus menerus belajar dan berinteraksi dengan lingkungannya secara serius,  pasti akan jauh lebih memahami persoalan riel seluk beluk pasar pembacanya dibandingkan akademisi yang hanya di belakang meja dan tidak berinteraksi dengan lingkungannya. Lagian, kalau si penulis adalah seorang praktisi, pasti akan kami imbangi dengan editor ahli yang basicnya akademisi agar tetap bisa seimbang. Begitu juga sebaliknya.” 

X : “Bagaimana jika si praktisi tersebut belum punya bakat menulis ?  Bahkan mungkin belum mempunyai pemahaman menulis yang baik dan benar ?”

Y : “Kami percaya jika menulis bukanlah bakat. Menulis ini murni hanya persoalan latihan saja. Begitu juga dengan persoalan tata bahasa, itu bisa dilatih dan dipertajam sepanjang kita mau. Toh materi tersebut pasti pernah kita terima di bangku sekolah maupun kampus. Tapi yang penting  bagi seorang praktisi dalam konteks penulisan buku ini adalah dia harus mampu mengkomunikasikan gagasan, pikiran dan ilmu yang dimiliki ke orang lain, sehingga orang lain tersebut bisa memahaminya dengan baik. Memang, dalam hal ini sangat ditentukan oleh sejauh mana ia mau berproses. Tapi intinya ini hanya persoalan pemahaman bahasa komunikasi saja. Sebab buku pada dasarnya merupakan media informasi dan komunikasi bagi pembaca. Selain itu, dalam teknis proses penyempurnaan tulisannya nanti akan dibantu pula peran editor dan tim redaksi penerbit dalam menggawangi naskah tersebut sebelum sampai ke tangan pembaca.” 

 X : “Tapi bagaimana jika penulis belum  memahami kebutuhan pasar buku nasional ?”

Y : “Memang, pemahaman terhadap peta pasar buku juga menjadi hal penting bagi penulis, namun itu tidaklah mutlak dan hanya bersifat pendukung. Justru pemahaman terhadap bidang yang dikuasai penulis itu yang bersifat mutlak . Sebab untuk urusan pemahaman terhadap peta pasar buku ini menjadi bagian peran dan fungsi pentingnya penerbit. Artinya, penerbitlah yang cenderung  akan menggali kebutuhan  pasar buku yang sesuai bidang garapannya dengan berbagai analisa yang ada. Biasanya dirumuskan dalam bentuk konsep buku. Setelah itu, kebutuhan pasar pembaca haruslah dipertemukan dengan orang yang memiliki kompetensi di bidang tersebut (baik praktisi atau akademisi) yakni si penulis. Soal teknisnya bisa dilakukan 2 arah. Penulis yang menjajaki penerbit ataupun sebaliknya. Sehingga penerbit ada dasarnya adalah mediator dan fasilitator bagi penulis dan pembaca. Sementara itu, penulis fokusnya justru harus diarahkan bagaimana memaksimalkan potensi dan kompetensinya untuk menghasilkan karya yang berkualitas sesuai dengan bidangnya.”

X : “Lalu apa yang harus dilakukan penulis maupun calon penulis untuk ke sana ?”
 
Y : Kekuatan sebuah buku sangat ditentukan oleh kekuatan isi yang dilatarbelakangi kompetensi si penulis dan si penerbit dalam memahami kebutuhan pembacanya. Sehingga pendekatan kualitas tulisan menjadi sangat utama. Sementara kekuatan dalam percaturannya di pasar buku sangat ditentukan dari seberapa cerdas si penulis dan si penerbit memainkan kreatifitasnya secara optimal di tengah persaingan buku yang ada di pasar.  Sebab, jika sudah bicara pasar maka sebenarnya banyak hal yang berperan di dalamnya. Bukan hanya kekuatan isi, namun juga kekuatan konsep buku, kemasan, jaringan distribusi dan pemasaran (baik toko buku maupun non toko buku), display, kekuatan promosi, jaringan penulis dan lain sebagainya. Intinya para penulis haruslah kompeten dan fokus pada bidangnya. Sebab dari situlah yang menentukan ketajaman ilmu, pengetahuan, skill yang ia miliki untuk menjawab kebutuhan pembacanya. Selain itu, penulis harus  mampu mengkomunikasikan  dengan baik serta kreatif dalam berbagai hal. Sebab kekuatan kreatifitas inilah yang sejatinya menjadi salah satu penentu kebertahanannya karyanya di tengah banyaknya karya di sekelilingnya.  
                Ya, semua orang pada dasarnya bisa jadi penulis. Jika saja mereka bisa menyadari, menggali, dan mengoptimalkan  potensi serta kompetensi yang ada pada dirinya, lalu mau berbagi informasi ke orang lain apapun motifnya. Semua orang pada dasarnya bisa menjadi penulis dan menerbitkan bukunya, jika ia mempunyai naskah dan tidak ragu-ragu untuk mengirimkannya ke penerbit yang tepat. Kesempatan itu terbuka lebar, namun tidak semua orang bisa memanfaatkan dengan optimal. Percayalah, ini murni hanya persoalan kemauan dan latihan.
Menulis satu paragraf buruk tetap lebih baik bagi penulis, daripada banyak ide dan gagasan menarik namun hilang karena tidak dituangkan dalam tulisan. 

Salam Kreatif ! 

“TANTANGAN ERA DIGITAL BAGI PENULIS & PENERBIT BUKU”



“TANTANGAN ERA DIGITAL BAGI PENULIS & PENERBIT BUKU”
Oleh : Tri Prasetyo *

Dalam era perkembangan teknologi informasi saat ini, di mana akses internet sudah sedemikian luasnya telah memungkinkan semua orang bisa mencari informasi dalam hal apa pun. Begitu juga perkembangan media pendukungnya seperti gadget dengan berbagai aplikasinya yang semakin lengkap dan harga yang semakin terjangkau, juga membawa perubahan tersendiri dalam pola masyarakat untuk mendapatkan informasi. Ya, semua orang kini memungkinkan bisa terhubung dengan cepat sekaligus mendapatkan ruang terbuka untuk berekspresi dan berbagi informasi. Era ini tentu membawa perubahan pula  dalam dunia penulisan dan penerbitan buku di Indonesia serta pergerakan pola pembacanya.
Jika sebelumnya secara umum masyarakat lebih dominan mencari informasi lewat koran, majalah, maupun buku, maka kini mereka lebih praktis mencari informasinya lewat internet. Jika sebelumnya mereka membaca buku dalam bentuk printbook saja, maka dengan era digital kini sebagian dari mereka sudah bergeser membaca ebook. Begitu juga kalau sebelumnya  membeli buku via toko buku konvesional dan modern saja, kini sebagian pembaca lebih memilih untuk membeli buku via toko buku online yang sudah banyak menjamur. Bahkan distributor yang selama ini menjadi mitra penerbit dalam mendistribusikan bukunya secara nasional pun sudah ada yang fokus di buku-buku ebook dengan sistem penjualan online. Dengan perubahan yang sedang berjalan tersebut, bagaimanakah tantangan dan peluang ke depannya ? 

Esensi sebuah Buku adalah Informasi untuk Pembaca
Esensi sebuah buku pada dasarnya adalah informasi. Dalam konteks sebagai media informasi, maka ia akan berusaha menggarap tema-tema yang dibutuhkan oleh pembaca dan benar-benar menyajikan bacaan yang berkualitas bagi pembaca yang disasarnya secara tepat.  Nah, selama manusia masih membutuhkan informasi, sejatinya industri ini tidak akan pernah mati, bukan ? Sehingga posisi buku dalam bentuk printbook atau ebook tidak akan mengubah esensinya informasi yang ingin disampaikan kepada pembaca, melainkan hanya berubah medianya saja yang dulu dari kertas kini menjadi digital. Bahkan dalam konteks sekarang ini, ebook justru sudah dimanfaatkan untuk mendokumentasikan atas buku-buku yang sudah tidak beredar lagi di toko buku karena berbagai pertimbangannya.   
Yang kedua, mau menggunakan media printbook atau ebook, secara prinsip kerja dalam penggarapan sebuah naskah hingga menjadi materi siap cetak adalah sama bagi penulis dan penerbit. Ada proses perumusan konsep untuk menggali kebutuhan pembaca dan membuat formula yang pas dan tepat di tengah kompetisi yang ada, penggarapan naskah bersama penulis yang sesuai dengan kompetensinya, proses editing di redaksi dengan standartnya, penggarapan setting buku, desain cover, pengajuan ISBN, hingga materi sudah benar-benar siap cetak pada dasarnya sama.
Apakah pergerakan ebook sudah sedemikian cepatnya seperti di Barat ? Untuk konteks di Indonesia tidaklah demikian. Karena masih banyak persoalan di dalamnya seperti infastruktur, budaya, pola masyarakat,  dan lain sebagainya. Memang, ebook sudah dijadikan media bagi pembaca, namun untuk saat ini ebook masihlah ibarat bayi. Sesuatu yang sudah lahir dan kelihatan lucu namun masih perlu banyak waktu untuk menuju dewasa.   
Maka persoalan pergeseran di atas bukanlah hal yang perlu ditakutkan, dan wajar saja dalam sebuah perubahan seiring dengan perkembangan teknologi . Tinggal tetap harus dibutuhkan penyesuaian dan senantiasa mengikuti pergerakan dan dinamika pembaca yang ada. Bukankah buku tersebut ditulis dan diterbitkan memang untuk pembaca yang disasarnya ?  Jikapun ternyata kebetulan tidak diterima, jangan-jangan hal tersebut bukan bagian karena  pergeseran pola pembaca ini, melainkan ketidakmampuan pelaku perbukuan dalam menjawab kebutuhan informasi masyarakat pembaca yang disasarnya ? Atau ketidakmampuan mengikuti arah minat pembaca yang ada ? 

Era digital dan aspek positif bagi dunia Penulisan & Penerbitan
Jika melihat kecenderungan pembaca muda saat ini dalam mencari informasi dan berkespresi, gadget agaknya menjadi media yang lebih sering digunakan. Hal ini karena gadget menawarkan kemudahan, kepraktisan, kecepatan, dan kesenangan bagi si penggunannya termasuk bagi penulis.
 Tantangan bagi penulis adalah bisakah mereka memanfaatkan atas berbagai kemudahan akses dan ketersediaan perangkat yang semakin canggih tersebut untuk lebih mendukung produktifitas dalam menulis? Baik dalam mencari berbagai sumber informasi dan refferensi pendukung tulisannya hingga ke media penulisannya itu sendiri. Aplikasi untuk mencatat hal-hal yang menarik yang kita temui, menelusuri informasi pendukungnya yang ingin kita ketahui, serta membangun komunikasi dan interaksi langsung dengan pembacanya sudah menjadi hal yang bisa dilakukan saat ini. Tinggal dibutuhkan kesadaran dan kemauan untuk ke sana.
Lahirnya penulis-penulis muda berbakat yang awalnya berbasis blog, media sosial, atau yang lain, salah satunya terbentuk dari mereka yang hidup dalam era gadget ini.  Ya, kalau dulu ruang untuk menulis sangat terbatas, kini dengan media yang ada mereka bisa bebas menulis dengan caranya, bebas menampilkan kekhasannya masing-masing, dipublikasikan sendiri lewat media yang mereka punyai, dibaca oleh banyak orang, dan menjadi idola baru bagi pembacanya ketika tulisannya berhasil diterima dengan baik sesuai dengan target pembaca yang disasarnya.
Dari situlah kemudian menjadi pijakan dasar pengembangan ke karya selanjutnya (dibidik penerbit,  diincar produser film, menjadi bahan di seminar, pelatihan, dan lain sebagainya).
Dalam industri penerbitan buku (baik printbook maupun ebook), konteks era keterbukaan informasi ini sangat memudahkan penerbit untuk menggali berbagai informasi yang diperlukan, menggai potensi penulis-penulis berbakat, menggali kecenderungan kebutuhan pasar pembaca, sekaligus menjadikan media informasi,  publikasi, dan promosi yang efektif. Tinggal bagaimana si penerbit tersebut bisa mengoptimalkannya.  
Memang, kecepatan perubahan seringnya lebih cepat dari kecepatan kita untuk berubah. Sehingga kadang kita lebih banyak tergagap atas kondisi yang ada dan cenderung terlambat untuk mempelajari hal-hal baru. Sementara dalam era informasi yang semakin terbuka, sebuah keberhasilan itu faktor terbesarnya hanya ditentukan siapa yang mau lebih cepat belajar saja !

Salam Kreatif ! 

“SETIAP PEKERJAAN BUTUH KETERAMPILAN MENULIS”



“SETIAP PEKERJAAN BUTUH KETERAMPILAN MENULIS”
Oleh : Tri Prasetyo (TP) *

Berawal dari sebuah postingan seorang kawan di Facebook, ada satu hal menarik yang saya baca dan kemudian membawa saya pada berita di Antara tanggal 1 Oktober 2014 dengan judul “Kemendikbud Tetapkan UKBI Sebagai Syarat Masuk Kerja”.  Di situ dipaparkan bahwa Kemendikbud akan menerapkan Ujian Kemahiran Bahasa Indonesia (UKBI) yang setara dengan TOEFL sebagai syarat dasar masuk kerja dan standar rekruitmen kerja, serta syarat bagi orang luar negeri yang akan masuk ke Indonesia. Adapun  dasar penetapan UKBI ini sejalan dengan Peraturan Pemerintah RI Nomor 57 2014 tentang Pengembangan, Pembinaan, dan Perlindungan Bahasa dan Sastra serta Peningkatan Fungsi Bahasa Indonesia.
Lalu saya langsung teringat diskusi beberapa waktu sebelumnya dengan seorang kawan editor sebuah penerbitan buku yang sekarang menjadi dosen di sebuah kampus swasta di Jogja. Dalam diskusi itu, garis besar yang kami dapatkan adalah betapa keterampilan menulis ini sebenarnya bisa menjadi modal dasar yang diperlukan di semua bidang pekerjaan tanpa terkecuali. Sebab hampir semua bidang pekerjaan tidak lepas dari aktivitas keterampilan menulis. Mulai dari saat melamar pekerjaan, membuat laporan, presentasi,  berkomunikasi antar bagian dan relasi via surat (email, sms, wa, bbm), berpromosi, dan lain sebagainya. Hal ini berlaku hampir di semua bidang pekerjaan umum maupun bidang pekerjaan yang memang secara khusus menekankan bidang penulisan ini sebagai bidang garapan utamanya.  Bahkan, dalam proses rekruitmen karyawan saat ini,  sudah banyak perusahaan yang mensyaratkan keterampilan menulis ini sebagai bagian dari penilaian dan pertimbangannya. Dan untuk memiliki keterampilan menulis, tentunya tidak lepas dari penguasaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, bukan ?  Sehingga penerapan UKBI ini seakan semakin mengukuhkan betapa pentingnya penguasaan bidang penulisan tersebut untuk saat ini dan kedepannya.  
Jika sejenak flash back, pelajaran bahasa Indonesia yang kita peroleh sejak Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi jika disadari keberadaannya sebenarnya sangat banyak memberikan manfaat dalam membentuk kemampuan di atas. Namun sayangnya, kesadaran pada saat itu lebih pada sebatas pelajaran yang harus diketahui dan diikuti demi mendapatkan sebuah nilai di raport dan ijazah saja.
Selain itu, karena bahasa Indonesia merupakan bahasa komunikasi sehar-hari secara lisan yang paling sering digunakan, seringkali aspek penulisan yang baik dan benar menjadi terabaikan.  Ya, kita percaya hampir setiap orang yang sudah sekolah pasti bisa menulis. Namun tidak banyak yang bisa menulis secara baik dan benar. Padahal, dalam konteks bidang pekerjaan, selain kemampuan berpikir, berbicara dan lainnya,  justru kemampuan menulis yang baik, benar, serta sopan tersebut menjadi hal yang sangat diperlukan. Sebab dalam era teknologi dan informasi saat ini, di mana jarak dan waktu bukan lagi menjadi kendala dalam konteks bekerja, maka bahasa tulis menjadi salah satu alat komunikasi utama yang cukup efektif.      
2 artikel yang menurut saya menarik dalam konteks ini adalah  “Sepuluh Kecakapan Dasar yang Anda Perlukan untuk Berkiprah Dunia Kerja” (putra-putri-indonesia.com) dan “6 Keahlian untuk dapat Berkompetisi di Kantor” (Andina Wulandari).  Di situ, membaca dan menulis menduduki peringkat pertama dan kedua. Kebiasaaan membaca buku-buku sepertihalnya orang-orang di negara maju ternyata mempunyai kontribusi besar dalam konteks ini, yakni dapat membentuk pola pikir dan memperkaya perspektif dan pengetahuan dalam menghadapi segala sesuatu dalam bidang pekerjaan yang ada. Sementara menulis dalam konteks kemampuan mengutarakan pendapat, pikiran, dan pengalamannya dengan tata bahasa yang baik dan benar dengan susunan kata yang teratur dan menarik pada dasarnya sangat diperlukan jika ingin berkiprah di dunia kerja. Jika keterampilan ini terus diasah dan dilatih maka akan semakin memperkuat kompetensi bidang pekerjaannya. Selain itu, keahlian menulis dengan efektif juga menjadi salah satu point terpentingnya. Sehingga pesan yang disampaikan dalam tulisan tersebut bisa diterima dan dimengerti semua pihak yang membacanya. Menulis yang efektif juga sangat berperan ketika pekerjaan tersebut memainkan peranan media sosial sebagai salah satu alat pendukungnya seperti halnya promosi, publikasi, dan lain sebagainya.
Jika dikaitkan dengan dinamika dunia penulisan profesional di Indonesia saat ini, pada dasarnya kita cukup berbangga. Sebab sudah banyak contoh yang bisa dijadikan model saat ini yang sukses di karirnya justru diawali dari menulis. Misalnya Raditya Dika, ....  
Model penulis inilah yang kemudian menjadi salah satu rujukan bagi anak-anak  muda saat ini untuk menekuni bidang penulisan secara lebih serius. Beberapa diantaranya berhasil mengikuti di belakangnya. Namun sebagian besar lainnya justru sebaliknya. Sebab ketika mereka ingin jadi penulis, seringkali mereka hanya melihat ujungnya saja, yakni bisa jadi terkenal, dapat penghasilan, bisa jadi batu loncatan untuk karir, dan lain sebagainya. Sebagian besar mereka lupa, bahwa menulis adalah proses yang tetap harus dijalani dengan fokus.
Untuk bisa menulis dengan terampil biar bagaimanapun butuh latihan, latihan, dan latihan. Hal ini untuk membentuk karakter tulisan sehingga bisa dengan tepat sampai ke pemahaman pembaca yang disasarnya. Untuk bisa menulis juga harus banyak membaca, membaca, dan membaca (baik buku maupun berbagai peristiwa dan fenomena di sekelilingnya) untuk mempertajam bobot tulisannya. Selain itu, ia juga harus membuka informasi dan jaringan yang seluas-luasnya. Karena itulah yang juga dijalani oleh mereka para penulis yang menjadi model rujukannya.
Yang menarik, untuk bisa berhasil dan sukses di bidang penulisan ini cuma ditentukan dari seberapa serius kita mau belajar dan berlatih serta mengoptimalkan kreatifitas yang ada. Bukan semata-mata urusan waktu, jenjang, maupun pendidikan. Bahkan jika kita sudah terampil menulis, maka apa pun yang menjadi tujuan dan motivasi yang ada akan bisa tergenggam dengan sendirinya dengan hasil bisa melebihi ekspetasi kita sebelumnya.
Lalu saya membayangkan, jika saja penerbitan maupun bidang lain yang fokus di dunia penulisan ini bersinergi dengan dunia pendidikan dan bergerak bersama ke sekolah-sekolah untuk memberikan informasi kepada para siswa dan masyarakat betapa pentingnya bidang penulisan ini digeluti sedari awal,  mungkin  hal ini akan bisa membantu  menjawab tantangan ke depannya.  Bukan hanya untuk memenuhi syarat dasar dalam bekerja di sebuah perusahaan sepertihalnya UKBI di atas, namun sekaligus bisa menciptakan lapangan pekerjaan dengan sendirinya. Bahkan bisa  menjadikan bidang penulisan ini sebagai profesi yang kian bergengsi dibandingkan dengan yang lainnya.   

Salam Kreatif !

“MENENTUKAN TARGET MENULIS !”



“MENENTUKAN TARGET  MENULIS !”
Oleh : Tri Prasetyo (TP) *

Banyak orang yang awalnya tidak pernah berpikir untuk menekuni dunia menulis namun pada akhirnya karena suatu keadaan “memaksa” dirinya harus bisa menulis. Misalnya karena tuntutan tugas dan pekerjaan, peningkatan jenjang karir, ekonomi, dan lain sebagainya. Beberapa diantaranya berhasil langsung melewati fase tersebut dengan target yang ditetapkan. Namun beberapa lainnya harus berjuang keras untuk menyelesaikannya dengan berbagai kendala.   Tapi  banyak juga yang akhirmya malah benar-benar bisa jadi penulis profesional, lho !
Jika melihat konteks tersebut, saya semakin percaya bahwa menulis adalah proses dan bukan semata-mata bakat. Untuk bisa menulis sebenarnya kita bisa menerapkan rumus sederhana yang pernah saya dapatkan dari workshop menulis, yakni 3B + 3L. Apa itu 3 B ? yaitu baca, baca., dan baca. Sedangkan 3L yaitu latihan, latihan, dan latihan.
Nah, dalam edisi kali ini saya akan berbagi pengalaman bagaimana membangun motivasi menulis dengan menentukan target menulis yang pernah dilakukan. 

Belajar Mengukur Kemampuan Menulis Kita Dalam Satuan Terkecil.
Ukuran pada prinsipnya menjadi cukup penting untuk menentukan  target hasil yang ingin kita raih. Dari ukuran inilah kita akan bisa menentukan step by step dalam prosesnya dan banyak hal lainnya secara lebih rasional dan terukur. 
Adapun cara sederhana yang pernah saya lakukan  adalah sebagai berikut :
Kita bisa mulai dari mengukur kemampuan membaca, sebab untuk bisa menulis paling tidak kita harus banyak membaca. Caranya ? Catat proses membaca yang dilakukan dalam ukuran jam/jamnya. Misalnya  pada 1 jam pertama, berapa halaman (hlm) yang berhasil dibaca ? 1 jam kedua dan seterusnya sampai buku tersebut selesai dibaca. Dari situ buatlah rekapan sederhana berapa rata-rata kemampuan baca yang ada. Ketika ketemu angka rata-rata baca 50 hlm /jam misalnya, maka saat harus membaca buku setebal 400 hlm secara otomatis kita sudah bisa menentukan target maksimal buku tersebut harus selesai dibaca yakni 8 jam.
Selain membaca, hal itu juga bisa dilakukan pada proses menulis, menulis, mengedit, koreksi, serta hal-hal yang terkait dalam proses penggarapan sebuah tulisan. Sehingga di setiap proses tersebut kita sudah bisa mendapatkan standar ukuran menurut potret pribadi kita. 

Melatih Mengurai Target Hasil Dalam Pendekatan Satuan
Ketika ditarget membuat sebuah tulisan dengan tema “X” sebanyak 150 halaman dengan target waktu yang sudah ditetapkan adalah 2 bulan dengan  5 buku menjadi referensinya (@300 hlm),  apa yang seharusnya kita lakukan ?
Dengan berangkat dari hasil ukuran di atas, maka langkah yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut :
Pertama identifikasi proses yang akan dijalani untuk menyelesaikan target tersebut.  Apa saja ? yakni harus baca 5 buku, buat kerangka naskah berdasarkan urutan babnya, lakukan proses menulis  150 hlm, editing & finishing.   
Kedua mengurai target waktu yang ada ke dalam satuan yang lebih kecil. Target waktu yang ditentukan  adalah 2 bulan. Jika diturunkan ke hari maka 2 bulan = 60 hari / 1440 jam.
Ketiga menurunkan target membaca sebanyak 5 buku @300 hlm. Jika rata-rata kemampuan baca di atas  adalah 50 hlm./ jam,  maka 1 buku akan bisa selesai dibaca dalam waktu 6 jam. Jika 5 buku maka memerlukan waktu 30 jam.  Jika kemudian dengan berbagai jadwal  yang ada diputuskan untuk menyisihkan waktu 3 jam / hari untuk membaca, maka proses membaca 5 buku tersebut bisa selesai  maksimal dalam waktu 10 hari.  Artinya waktu yang tersisa untuk menulis sebanyak 50 hari (60 hari dikurangi 10 hari untuk membaca).   
            Keempat menurunkan target menulis sebanyak 150 hlm.  Jika misalnya kemampuan rata-rata menulisnya adalah 3 hlm./ jam, maka untuk menyelesaikan 150 hlm dibutuhkan waktu 50 jam. Jika setiap hari meluangkan waktu 3 jam untuk menulis seperti halnya pada proses membaca di atas, maka waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tulisan 150 hlm adalah 16,66 hari atau 17 hari. Artinya untuk membaca dan menulis hanya diperlukan waktu 27 hari atau kurang dari setengah atas target waktu yang ditentukan sebanyak 2 bulan.  Waktu yang tersedia untuk proses editing sebanyak 33 hari (50 hari dikurangi 17 hari menulis).
Kelima proses editing dan finishing. Hal ini juga langsung bisa dilakukan sebagaimana proses membaca dan menulis di atas. Artinya setelah semua ide dan gagasan tertuang ke dalam tulisan sesuai panduan kerangka naskah yang sudah dibuat, maka  diamkan beberapa waktu. Setelah merasa siap, barulah proses editing dan finishing bisa dilakukan.

Menulis Harus Jadi Skala Prioritas Dalam Jadwal Anda
Jika melihat proses di atas, sesuatu yang pada awalnya terlihat sulit, ketika diuraikan dengan dasar ukuran kemampuan rata-rata yang kita miliki ternyata bisa menjadi lebih simpel, terukur,  dan sangat bisa dijangkau.
Nah, hal yang menjadi penting dalam proses ini adalah kita  harus bisa menempatan target di atas menjadi salah satu “skala prioritas” dalam segala aktivitas yang harus dijalani setiap hari ( urusan pekerjaan, rumah tangga, sosial, hobby, dan lain sebagainya). Dengan skala prioritas tersebut, maka otomatis harus bisa memasukkan jadwal menyelesaikan tulisan tersebut  ke dalam jadwal yang sudah ada. 

Disiplin Menjadi Kata Kunci
Semua latihan untuk menentukan standar ukuran, membuat rencana, dan menjalani target yang sudah kita turunkan tersebut tidak akan berarti tanpa adanya disiplin dalam diri kita. Sebab kunci keberhasilan dalam proses menulis tersebut bukan ditentukan oleh siapa-siapa kecuali diri kita. Untuk memperkuat semangat yang ada tinggal lihat kembali  motivasi dasar dalam proses menulis tersebut.
Memang, ini butuh sesuatu yang dipertaruhkan di awal. Baik keinginan, kesenangan, dan banyak hal lainnya yang ada dalam diri kita. Namun, bukankah hidup ini akan menjadi menarik ketika kita berani mempertaruhkan sesuatu ? Termasuk ketika ingin menjadi penulis atau mencapai sesuatu yang kita cita-citakan dengan jalan harus menulis ?    
Salam Kreatif!