“SETIAP PEKERJAAN BUTUH KETERAMPILAN
MENULIS”
Oleh :
Tri Prasetyo (TP) *
Berawal dari
sebuah postingan seorang kawan di Facebook,
ada satu hal menarik yang saya baca dan kemudian membawa saya pada berita di Antara
tanggal 1 Oktober 2014 dengan judul “Kemendikbud
Tetapkan UKBI Sebagai Syarat Masuk Kerja”. Di situ dipaparkan bahwa Kemendikbud akan
menerapkan Ujian Kemahiran Bahasa
Indonesia (UKBI) yang setara dengan TOEFL sebagai syarat dasar masuk kerja
dan standar rekruitmen kerja, serta syarat bagi orang luar negeri yang akan
masuk ke Indonesia. Adapun dasar penetapan
UKBI ini sejalan dengan Peraturan Pemerintah RI Nomor 57 2014 tentang
Pengembangan, Pembinaan, dan Perlindungan Bahasa dan Sastra serta Peningkatan
Fungsi Bahasa Indonesia.
Lalu saya langsung
teringat diskusi beberapa waktu sebelumnya dengan seorang kawan editor sebuah
penerbitan buku yang sekarang menjadi dosen di sebuah kampus swasta di Jogja. Dalam
diskusi itu, garis besar yang kami dapatkan adalah betapa keterampilan menulis
ini sebenarnya bisa menjadi modal dasar yang diperlukan di semua bidang
pekerjaan tanpa terkecuali. Sebab hampir semua bidang pekerjaan tidak lepas
dari aktivitas keterampilan menulis. Mulai dari
saat melamar pekerjaan, membuat laporan, presentasi, berkomunikasi antar bagian dan relasi via
surat (email, sms, wa, bbm), berpromosi, dan lain sebagainya. Hal ini
berlaku hampir di semua bidang pekerjaan umum maupun bidang pekerjaan yang memang secara khusus menekankan bidang
penulisan ini sebagai bidang garapan utamanya. Bahkan, dalam proses rekruitmen karyawan saat
ini, sudah banyak perusahaan yang
mensyaratkan keterampilan menulis ini sebagai bagian dari penilaian dan
pertimbangannya. Dan untuk memiliki keterampilan menulis, tentunya tidak lepas
dari penguasaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, bukan ? Sehingga penerapan UKBI ini seakan semakin
mengukuhkan betapa pentingnya penguasaan bidang penulisan tersebut untuk saat
ini dan kedepannya.
Jika sejenak flash back, pelajaran bahasa Indonesia
yang kita peroleh sejak Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi jika disadari
keberadaannya sebenarnya sangat banyak memberikan manfaat dalam membentuk kemampuan
di atas. Namun sayangnya, kesadaran pada saat itu lebih pada sebatas pelajaran
yang harus diketahui dan diikuti demi mendapatkan sebuah nilai di raport dan
ijazah saja.
Selain itu,
karena bahasa Indonesia merupakan bahasa komunikasi sehar-hari secara lisan
yang paling sering digunakan, seringkali aspek penulisan yang baik dan benar
menjadi terabaikan. Ya, kita percaya hampir
setiap orang yang sudah sekolah pasti bisa menulis. Namun tidak banyak yang
bisa menulis secara baik dan benar. Padahal, dalam konteks bidang pekerjaan, selain
kemampuan berpikir, berbicara dan lainnya, justru kemampuan menulis yang baik, benar,
serta sopan tersebut menjadi hal yang sangat diperlukan. Sebab dalam era
teknologi dan informasi saat ini, di mana jarak dan waktu bukan lagi menjadi
kendala dalam konteks bekerja, maka bahasa tulis menjadi salah satu alat komunikasi
utama yang cukup efektif.
2 artikel
yang menurut saya menarik dalam konteks ini adalah “Sepuluh
Kecakapan Dasar yang Anda Perlukan untuk Berkiprah Dunia Kerja”
(putra-putri-indonesia.com) dan “6
Keahlian untuk dapat Berkompetisi di Kantor” (Andina Wulandari). Di situ, membaca dan menulis menduduki
peringkat pertama dan kedua. Kebiasaaan membaca buku-buku sepertihalnya
orang-orang di negara maju ternyata mempunyai kontribusi besar dalam konteks
ini, yakni dapat membentuk pola pikir dan memperkaya perspektif dan pengetahuan
dalam menghadapi segala sesuatu dalam bidang pekerjaan yang ada. Sementara menulis
dalam konteks kemampuan mengutarakan pendapat, pikiran, dan pengalamannya
dengan tata bahasa yang baik dan benar dengan susunan kata yang teratur dan
menarik pada dasarnya sangat diperlukan jika ingin berkiprah di dunia kerja.
Jika keterampilan ini terus diasah dan dilatih maka akan semakin memperkuat
kompetensi bidang pekerjaannya. Selain itu, keahlian menulis dengan efektif juga
menjadi salah satu point terpentingnya. Sehingga pesan yang disampaikan dalam
tulisan tersebut bisa diterima dan dimengerti semua pihak yang membacanya. Menulis
yang efektif juga sangat berperan ketika pekerjaan tersebut memainkan peranan
media sosial sebagai salah satu alat pendukungnya seperti halnya promosi,
publikasi, dan lain sebagainya.
Jika dikaitkan
dengan dinamika dunia penulisan profesional di Indonesia saat ini, pada
dasarnya kita cukup berbangga. Sebab sudah banyak contoh yang bisa dijadikan
model saat ini yang sukses di karirnya justru diawali dari menulis. Misalnya
Raditya Dika, ....
Model penulis
inilah yang kemudian menjadi salah satu rujukan bagi anak-anak muda saat ini untuk menekuni bidang penulisan
secara lebih serius. Beberapa diantaranya berhasil mengikuti di belakangnya.
Namun sebagian besar lainnya justru sebaliknya. Sebab ketika mereka ingin jadi
penulis, seringkali mereka hanya melihat ujungnya saja, yakni bisa jadi
terkenal, dapat penghasilan, bisa jadi batu loncatan untuk karir, dan lain
sebagainya. Sebagian besar mereka lupa, bahwa menulis adalah proses yang tetap harus
dijalani dengan fokus.
Untuk bisa
menulis dengan terampil biar bagaimanapun butuh latihan, latihan, dan latihan. Hal
ini untuk membentuk karakter tulisan sehingga bisa dengan tepat sampai ke
pemahaman pembaca yang disasarnya. Untuk bisa menulis juga harus banyak
membaca, membaca, dan membaca (baik buku maupun berbagai peristiwa dan fenomena
di sekelilingnya) untuk mempertajam bobot tulisannya. Selain itu, ia juga harus
membuka informasi dan jaringan yang seluas-luasnya. Karena itulah yang juga
dijalani oleh mereka para penulis yang menjadi model rujukannya.
Yang menarik,
untuk bisa berhasil dan sukses di bidang penulisan ini cuma ditentukan dari seberapa
serius kita mau belajar dan berlatih serta mengoptimalkan kreatifitas yang ada.
Bukan semata-mata urusan waktu, jenjang, maupun pendidikan. Bahkan jika kita
sudah terampil menulis, maka apa pun yang menjadi tujuan dan motivasi yang ada akan
bisa tergenggam dengan sendirinya dengan hasil bisa melebihi ekspetasi kita
sebelumnya.
Lalu saya
membayangkan, jika saja penerbitan maupun bidang lain yang fokus di dunia
penulisan ini bersinergi dengan dunia pendidikan dan bergerak bersama ke
sekolah-sekolah untuk memberikan informasi kepada para siswa dan masyarakat betapa
pentingnya bidang penulisan ini digeluti sedari awal, mungkin hal ini akan bisa membantu menjawab tantangan ke depannya. Bukan hanya untuk memenuhi syarat dasar dalam
bekerja di sebuah perusahaan sepertihalnya UKBI di atas, namun sekaligus bisa
menciptakan lapangan pekerjaan dengan sendirinya. Bahkan bisa menjadikan bidang penulisan ini sebagai
profesi yang kian bergengsi dibandingkan dengan yang lainnya.
Salam Kreatif !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar