Selasa, 10 Februari 2015

“SETIAP PEKERJAAN BUTUH KETERAMPILAN MENULIS”



“SETIAP PEKERJAAN BUTUH KETERAMPILAN MENULIS”
Oleh : Tri Prasetyo (TP) *

Berawal dari sebuah postingan seorang kawan di Facebook, ada satu hal menarik yang saya baca dan kemudian membawa saya pada berita di Antara tanggal 1 Oktober 2014 dengan judul “Kemendikbud Tetapkan UKBI Sebagai Syarat Masuk Kerja”.  Di situ dipaparkan bahwa Kemendikbud akan menerapkan Ujian Kemahiran Bahasa Indonesia (UKBI) yang setara dengan TOEFL sebagai syarat dasar masuk kerja dan standar rekruitmen kerja, serta syarat bagi orang luar negeri yang akan masuk ke Indonesia. Adapun  dasar penetapan UKBI ini sejalan dengan Peraturan Pemerintah RI Nomor 57 2014 tentang Pengembangan, Pembinaan, dan Perlindungan Bahasa dan Sastra serta Peningkatan Fungsi Bahasa Indonesia.
Lalu saya langsung teringat diskusi beberapa waktu sebelumnya dengan seorang kawan editor sebuah penerbitan buku yang sekarang menjadi dosen di sebuah kampus swasta di Jogja. Dalam diskusi itu, garis besar yang kami dapatkan adalah betapa keterampilan menulis ini sebenarnya bisa menjadi modal dasar yang diperlukan di semua bidang pekerjaan tanpa terkecuali. Sebab hampir semua bidang pekerjaan tidak lepas dari aktivitas keterampilan menulis. Mulai dari saat melamar pekerjaan, membuat laporan, presentasi,  berkomunikasi antar bagian dan relasi via surat (email, sms, wa, bbm), berpromosi, dan lain sebagainya. Hal ini berlaku hampir di semua bidang pekerjaan umum maupun bidang pekerjaan yang memang secara khusus menekankan bidang penulisan ini sebagai bidang garapan utamanya.  Bahkan, dalam proses rekruitmen karyawan saat ini,  sudah banyak perusahaan yang mensyaratkan keterampilan menulis ini sebagai bagian dari penilaian dan pertimbangannya. Dan untuk memiliki keterampilan menulis, tentunya tidak lepas dari penguasaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, bukan ?  Sehingga penerapan UKBI ini seakan semakin mengukuhkan betapa pentingnya penguasaan bidang penulisan tersebut untuk saat ini dan kedepannya.  
Jika sejenak flash back, pelajaran bahasa Indonesia yang kita peroleh sejak Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi jika disadari keberadaannya sebenarnya sangat banyak memberikan manfaat dalam membentuk kemampuan di atas. Namun sayangnya, kesadaran pada saat itu lebih pada sebatas pelajaran yang harus diketahui dan diikuti demi mendapatkan sebuah nilai di raport dan ijazah saja.
Selain itu, karena bahasa Indonesia merupakan bahasa komunikasi sehar-hari secara lisan yang paling sering digunakan, seringkali aspek penulisan yang baik dan benar menjadi terabaikan.  Ya, kita percaya hampir setiap orang yang sudah sekolah pasti bisa menulis. Namun tidak banyak yang bisa menulis secara baik dan benar. Padahal, dalam konteks bidang pekerjaan, selain kemampuan berpikir, berbicara dan lainnya,  justru kemampuan menulis yang baik, benar, serta sopan tersebut menjadi hal yang sangat diperlukan. Sebab dalam era teknologi dan informasi saat ini, di mana jarak dan waktu bukan lagi menjadi kendala dalam konteks bekerja, maka bahasa tulis menjadi salah satu alat komunikasi utama yang cukup efektif.      
2 artikel yang menurut saya menarik dalam konteks ini adalah  “Sepuluh Kecakapan Dasar yang Anda Perlukan untuk Berkiprah Dunia Kerja” (putra-putri-indonesia.com) dan “6 Keahlian untuk dapat Berkompetisi di Kantor” (Andina Wulandari).  Di situ, membaca dan menulis menduduki peringkat pertama dan kedua. Kebiasaaan membaca buku-buku sepertihalnya orang-orang di negara maju ternyata mempunyai kontribusi besar dalam konteks ini, yakni dapat membentuk pola pikir dan memperkaya perspektif dan pengetahuan dalam menghadapi segala sesuatu dalam bidang pekerjaan yang ada. Sementara menulis dalam konteks kemampuan mengutarakan pendapat, pikiran, dan pengalamannya dengan tata bahasa yang baik dan benar dengan susunan kata yang teratur dan menarik pada dasarnya sangat diperlukan jika ingin berkiprah di dunia kerja. Jika keterampilan ini terus diasah dan dilatih maka akan semakin memperkuat kompetensi bidang pekerjaannya. Selain itu, keahlian menulis dengan efektif juga menjadi salah satu point terpentingnya. Sehingga pesan yang disampaikan dalam tulisan tersebut bisa diterima dan dimengerti semua pihak yang membacanya. Menulis yang efektif juga sangat berperan ketika pekerjaan tersebut memainkan peranan media sosial sebagai salah satu alat pendukungnya seperti halnya promosi, publikasi, dan lain sebagainya.
Jika dikaitkan dengan dinamika dunia penulisan profesional di Indonesia saat ini, pada dasarnya kita cukup berbangga. Sebab sudah banyak contoh yang bisa dijadikan model saat ini yang sukses di karirnya justru diawali dari menulis. Misalnya Raditya Dika, ....  
Model penulis inilah yang kemudian menjadi salah satu rujukan bagi anak-anak  muda saat ini untuk menekuni bidang penulisan secara lebih serius. Beberapa diantaranya berhasil mengikuti di belakangnya. Namun sebagian besar lainnya justru sebaliknya. Sebab ketika mereka ingin jadi penulis, seringkali mereka hanya melihat ujungnya saja, yakni bisa jadi terkenal, dapat penghasilan, bisa jadi batu loncatan untuk karir, dan lain sebagainya. Sebagian besar mereka lupa, bahwa menulis adalah proses yang tetap harus dijalani dengan fokus.
Untuk bisa menulis dengan terampil biar bagaimanapun butuh latihan, latihan, dan latihan. Hal ini untuk membentuk karakter tulisan sehingga bisa dengan tepat sampai ke pemahaman pembaca yang disasarnya. Untuk bisa menulis juga harus banyak membaca, membaca, dan membaca (baik buku maupun berbagai peristiwa dan fenomena di sekelilingnya) untuk mempertajam bobot tulisannya. Selain itu, ia juga harus membuka informasi dan jaringan yang seluas-luasnya. Karena itulah yang juga dijalani oleh mereka para penulis yang menjadi model rujukannya.
Yang menarik, untuk bisa berhasil dan sukses di bidang penulisan ini cuma ditentukan dari seberapa serius kita mau belajar dan berlatih serta mengoptimalkan kreatifitas yang ada. Bukan semata-mata urusan waktu, jenjang, maupun pendidikan. Bahkan jika kita sudah terampil menulis, maka apa pun yang menjadi tujuan dan motivasi yang ada akan bisa tergenggam dengan sendirinya dengan hasil bisa melebihi ekspetasi kita sebelumnya.
Lalu saya membayangkan, jika saja penerbitan maupun bidang lain yang fokus di dunia penulisan ini bersinergi dengan dunia pendidikan dan bergerak bersama ke sekolah-sekolah untuk memberikan informasi kepada para siswa dan masyarakat betapa pentingnya bidang penulisan ini digeluti sedari awal,  mungkin  hal ini akan bisa membantu  menjawab tantangan ke depannya.  Bukan hanya untuk memenuhi syarat dasar dalam bekerja di sebuah perusahaan sepertihalnya UKBI di atas, namun sekaligus bisa menciptakan lapangan pekerjaan dengan sendirinya. Bahkan bisa  menjadikan bidang penulisan ini sebagai profesi yang kian bergengsi dibandingkan dengan yang lainnya.   

Salam Kreatif !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar