“BUKU
SEBAGAI MEDIA INFORMASI UNTUK PEMBACA”
Oleh : Tri
Prasetyo (TP) *
Buku dalam industri
penerbitan masa kini mempunyai peran sebagai media informasi bagi pembaca. Sehingga selama manusia di dunia ini masih
membutuhkan informasi, maka sejatinya industri penerbitan dan semua stockholder-nya termasuk penulis akan
tetap eksis sampai kapanpun. Bahkan
ketika beberapa tahun yang lalu banyak
pihak dalam industri perbukuan meramalkan buku (print book) akan tergeser
oleh e-book karena masuknya era
digital, hal ini tidak akan mengurangi eksistensinya. Sebab print book ataupun e-book hanya merupakan medianya saja. Namun proses dan tujuannya
tetap sama dalam proses industri penerbitan seperti yang selama ini dijalani.
Bahkan satu sisi era digital justru memberikan sisi positif dalam hal
mempermudah akses informasi yang bisa digali penerbit, penulis, dan pembaca
untuk berbagai hal yang mendukung industri ini.
Selain itu, buku dalam
industri penerbitan masa kini senantiasa ditempatkan dalam 2 konteks, yakni
buku sebagai karya intelektual dan karya industri. Konteks buku sebagai sebagai
karya itelektual adalah informasi yang diberikan ke pembaca harus tetap didasarkan pada kompetensi penulis dan
kompetensi penerbit itu sendiri. Kompetensi penulis tidak hanya didasarkan pada
kompetensi akademik saja, namun juga skill
(keterampilan), hobi, dan berbagai hal yang mereka kuasai. Sementara kompetensi
penerbit di dasarkan pada kemampuan engine
redaksi dalam menguasai bidang yang menjadi garapannya yang sesuai dengan kebutuhan
informasi pembaca yang disasarnya. Sementara konteks buku sebagai karya
industri adalah maka
penerbit pasti akan menerbitkan buku yang bisa diterima pasar pembaca secara luas (nasional). Hal ini,
akan dilakukannya dengan melakukan serangkaian analisa, perumusan konsep buku,
strategi promosi maupun hal yang lainnya agar buku tersebut benar-benar bisa
diterima pasar pembaca secara tepat dan sesuai dengan target yang diharapkan
penerbit dan penulis
Karena buku sebagai media
informasi yang sangat luas (jika dalam konteks bahasan edisi sebelumnya telah
disinggung adanya 108 kategori dan 108 sub kategori di pasar buku nasional yang
bisa disasar penulis), maka penerbit pun kemudian menfokuskan arah penerbitannya pada keahlian bidang yang
sesuai dengan kompetensi dan garis kebijakan perusahaannya. Misalnya untuk Penerbit Indonesia Tera, fokus
utama terbesar pada buku non fiksi kategori Bahasa-Kamus, dan fokus
pendukungnya pada kategori Penunjang pelajaran, Keterampilan, Kewanitaan, dan
Hobi. Sehingga untuk kategori lain di luar bidang tersebut secara prinsip
porsinya naskah yang diterbitkan menjadi sangat kecil
Hal ini harus disadari oleh para calon penulis dan para penulis
yang ingin bekerjasama dengan penerbit. Sehingga perpaduan kompetensi bidang si
penulis tetap harus sinkron dengan kompetensi bidang garapan yang menjadi fokus
dan spesialisasi penerbit yang ingin disasarnya.
Beberapa garis besar yang harus dipertimbangan penulis ketika
naskahnya ingin diterbitkan oleh penerbit adalah.
- Ketepatan untuk menggali kebutuhan pembaca.
Jika pada awalnya dalam
proses menulis lebih cenderung pada pertimbangan pribadi, maka ketika
orientasinya untuk diterbitkan di penerbit, pertimbangan kebutuhan pembaca yang
disasarnya adalah mutlak adanya. Hal yang
pertama yang harus disadari dari awal adalah untuk siapa dan untuk apa
tulisan itu dibuat dan ingin diterbitkan. Memang ini butuh proses latihan yang
tidak gampang. Akan tetapi, jika si penulis memang fokus pada bidang yang
digelutinya secara konsisten, dan mau menggali informasi kebutuhan pembaca
secara lebih jauh dan serius, maka ketepatan dalam memberikan informasi yang
benar-benar dibutuhkan pembaca pastilah menjadi mudah.
- Kecepatan dalam merespon momentum.
Dalam penerbit, momentum
menjadi salah satu faktor yang cukup menentukan dalam pertempuran buku di pasar
pembaca. Dan untuk memahaminya hanya diperlukan kemauan untuk menggali berbagai
informasi, termasuk dari penerbit, pemasaran maupun toko buku. Dari beberapa kasus, seringkali ditemukan
naskah buku yang bagus dari penulis, namun momentum masuknya ke penerbit yang
kurang tepat (telat) hanya gara-gara kekurangsinkronan pada pemahaman ini.
- Ketepatan menjalin kerjasama dengan penerbit.
Pada konteks ini, temukan kompetensi dan keahlian bidang yang
dikuasai penulis, lalu sinergikan dengan penerbit yang sesuai dengan bidang
garapannya. Bahkan untuk mempertajam poin 1 dan 2, bisa juga dimulai dari
menggali informasi dari penerbit terlebih dahulu. Kuncinya hanya dibutuhkan
kemauan penulis untuk membuka akses dengan penerbit. Dalam hal ini, peluang dan
kesempatan itu sangat terbuka lebar. Sebab penerbit saat ini sangat lebih
terbuka dalam berbagai hal, dan tidak lagi terbatas jarak dan waktu. Informasi
dan komunikasi bisa dijalin secara langsung via kontak kantor, kontak person
redaksi, media sosial penerbit, atau bahkan ngobrol langsung face to face dengan redaksi di mana saja
sesuai dengan kesepakatan.
Nah, sesuai dengan pepatah bahwa “Buku adalah jendela dunia”, maka
bisa dipastikan bahwa buku memberikan manfaat besar, yaitu sebagai media
informasi. Dengan buku, kita akan mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan,
agama, sosial, politik, budaya, bahasa, dan sebagainya. Semakin banyak kita
membaca buku semakin banyak pula informasi yang bisa kita dapatkan. Semakin
banyak kita menggali informasi dari dunia buku, maka semakin besar pula peluang
yang bisa disasar para penulis dan calon penulis untuk memberikan karya-karya
terbaiknya bagi penerbit dan pembaca.
Salam Kreatif !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar