Selasa, 10 Februari 2015

“BUKU SEBAGAI MEDIA INFORMASI UNTUK PEMBACA”




“BUKU SEBAGAI MEDIA INFORMASI UNTUK PEMBACA”
Oleh : Tri Prasetyo (TP) *

Buku dalam industri penerbitan masa kini mempunyai peran sebagai media informasi bagi pembaca.  Sehingga selama manusia di dunia ini masih membutuhkan informasi, maka sejatinya industri penerbitan dan semua stockholder-nya termasuk penulis akan tetap eksis sampai kapanpun. Bahkan ketika beberapa tahun yang lalu  banyak pihak dalam industri perbukuan meramalkan buku (print book)  akan tergeser oleh e-book karena masuknya era digital, hal ini tidak akan mengurangi eksistensinya. Sebab print book ataupun e-book hanya merupakan medianya saja. Namun proses dan tujuannya tetap sama dalam proses industri penerbitan seperti yang selama ini dijalani. Bahkan satu sisi era digital justru memberikan sisi positif dalam hal mempermudah akses informasi yang bisa digali penerbit, penulis, dan pembaca untuk berbagai hal yang mendukung industri ini.  
Selain itu, buku dalam industri penerbitan masa kini senantiasa ditempatkan dalam 2 konteks, yakni buku sebagai karya intelektual dan karya industri. Konteks buku sebagai sebagai karya itelektual adalah informasi yang diberikan ke pembaca harus  tetap didasarkan pada kompetensi penulis dan kompetensi penerbit itu sendiri. Kompetensi penulis tidak hanya didasarkan pada kompetensi akademik saja, namun juga skill (keterampilan), hobi, dan berbagai hal yang mereka kuasai. Sementara kompetensi penerbit di dasarkan pada kemampuan engine redaksi dalam menguasai bidang yang menjadi garapannya yang sesuai dengan kebutuhan informasi pembaca yang disasarnya. Sementara konteks buku sebagai karya industri adalah maka penerbit pasti akan menerbitkan buku yang bisa diterima  pasar pembaca secara luas (nasional). Hal ini, akan dilakukannya dengan melakukan serangkaian analisa, perumusan konsep buku, strategi promosi maupun hal yang lainnya agar buku tersebut benar-benar bisa diterima pasar pembaca secara tepat dan sesuai dengan target yang diharapkan penerbit dan penulis
Karena buku sebagai media informasi yang sangat luas (jika dalam konteks bahasan edisi sebelumnya telah disinggung adanya 108 kategori dan 108 sub kategori di pasar buku nasional yang bisa disasar penulis), maka penerbit pun kemudian menfokuskan arah  penerbitannya pada keahlian bidang yang sesuai dengan kompetensi dan garis kebijakan perusahaannya.  Misalnya untuk Penerbit Indonesia Tera, fokus utama terbesar pada buku non fiksi kategori Bahasa-Kamus, dan fokus pendukungnya pada kategori Penunjang pelajaran, Keterampilan, Kewanitaan, dan Hobi. Sehingga untuk kategori lain di luar bidang tersebut secara prinsip porsinya naskah yang diterbitkan menjadi sangat kecil  
Hal ini harus disadari oleh para calon penulis dan para penulis yang ingin bekerjasama dengan penerbit. Sehingga perpaduan kompetensi bidang si penulis tetap harus sinkron dengan kompetensi bidang garapan yang menjadi fokus dan spesialisasi penerbit yang ingin disasarnya. 
Beberapa garis besar  yang harus dipertimbangan penulis ketika naskahnya ingin diterbitkan oleh penerbit adalah.  
  1. Ketepatan  untuk menggali kebutuhan pembaca.
Jika pada awalnya dalam proses menulis lebih cenderung pada pertimbangan pribadi, maka ketika orientasinya untuk diterbitkan di penerbit, pertimbangan kebutuhan pembaca yang disasarnya adalah mutlak adanya. Hal yang  pertama yang harus disadari dari awal adalah untuk siapa dan untuk apa tulisan itu dibuat dan ingin diterbitkan. Memang ini butuh proses latihan yang tidak gampang. Akan tetapi, jika si penulis memang fokus pada bidang yang digelutinya secara konsisten, dan mau menggali informasi kebutuhan pembaca secara lebih jauh dan serius, maka ketepatan dalam memberikan informasi yang benar-benar dibutuhkan pembaca pastilah menjadi mudah.

  1. Kecepatan dalam merespon momentum.
Dalam penerbit, momentum menjadi salah satu faktor yang cukup menentukan dalam pertempuran buku di pasar pembaca. Dan untuk memahaminya hanya diperlukan kemauan untuk menggali berbagai informasi, termasuk dari penerbit, pemasaran maupun toko buku.  Dari beberapa kasus, seringkali ditemukan naskah buku yang bagus dari penulis, namun momentum masuknya ke penerbit yang kurang tepat (telat) hanya gara-gara kekurangsinkronan pada pemahaman ini.  

  1. Ketepatan menjalin kerjasama dengan penerbit.
Pada konteks ini,  temukan kompetensi dan keahlian bidang yang dikuasai penulis, lalu sinergikan dengan penerbit yang sesuai dengan bidang garapannya. Bahkan untuk mempertajam poin 1 dan 2, bisa juga dimulai dari menggali informasi dari penerbit terlebih dahulu. Kuncinya hanya dibutuhkan kemauan penulis untuk membuka akses dengan penerbit. Dalam hal ini, peluang dan kesempatan itu sangat terbuka lebar. Sebab penerbit saat ini sangat lebih terbuka dalam berbagai hal, dan tidak lagi terbatas jarak dan waktu. Informasi dan komunikasi bisa dijalin secara langsung via kontak kantor, kontak person redaksi, media sosial penerbit, atau bahkan ngobrol langsung face to face dengan redaksi di mana saja sesuai dengan kesepakatan.
Nah, sesuai dengan pepatah bahwa “Buku adalah jendela dunia”, maka bisa dipastikan bahwa buku memberikan manfaat besar, yaitu sebagai media informasi. Dengan buku, kita akan mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan, agama, sosial, politik, budaya, bahasa, dan sebagainya. Semakin banyak kita membaca buku semakin banyak pula informasi yang bisa kita dapatkan. Semakin banyak kita menggali informasi dari dunia buku, maka semakin besar pula peluang yang bisa disasar para penulis dan calon penulis untuk memberikan karya-karya terbaiknya bagi penerbit dan pembaca.   

Salam Kreatif ! 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar