“SEMUA ORANG BISA JADI PENULIS BUKU”
Oleh
: Tri Prasetyo (TP) *
Dalam
berbagai kesempatan dan diskusi penulisan, beberapa pertanyaan mendasar yang
senantiasa muncul dari para peserta (calon penulis maupun para penulis) pada
dasarnya hampir sama. Misalnya tentang anggapan
menulis adalah bakat, adanya anggapan penulis baru susah menembus penerbit, kompetensi
penulis yang berbasis praktisi dan akademisi, dan banyak hal lainnya. Mungkin
inilah berbagai hal yang selama ini menjadi semacam stigma dalam dunia penulisan
buku. Sehingga dunia penulisan buku seakan menjadi ruang yang sulit ditembus. Padahal
ruang dan kesempatan untuk jadi penulis buku masih sangat terbuka lebar. Bahkan
menurut kami semua orang pada dasarnya punya kesempatan jadi penulis buku. Untuk
itu, di edisi ke-3 ini kami akan bahas
tentang berbagai pertanyaan mendasar penulis / calon penulis (X) ke penerbit
(Y) tentang berbagai hal tersebut.
X : “Apakah penerbit Anda tidak takut menerbitkan
naskah dari para penulis baru ?”
Y : “Sama sekali tidak.
Sebab tolak ukurnya sebuah naskah bisa kami terbitkan bukan pada persoalan ia penulis baru atau lama, namun
lebih pada kompetensi bidang pada naskah yang dimiliki penulis. Artinya sepanjang
si penulis memiliki potensi dan kompetensi bidang yang sesuai dengan kebutuhan
pasar pembaca yang disasar penerbit, maka tidak menutup kemungkinan naskahnya
bisa diterbitkan.”
X : “Tapi sebuah buku kan salah satunya
ditentukan dari nama besar penulis ?”
Y : “Tidak semua
katagori buku ditentukan hanya dari nama besar penulis. Namun dominasinya tetap
dari konten isi buku yang benar-benar bisa memberikan informasi yang dibutuhkan
pembaca secara luas. Sebab buku yang baik adalah buku yang bisa menemukan pasar
pembacanya secara luas. Memang nama besar juga tetap mengambil peran di situ,
tapi sifatnya tidak mutlak. Jadi pendekatannya tetap harus ke kualitas naskah
yang harus sesuai dengan kebutuhan pasar pembaca yang disasarnya.”
X : “Bagaimana jika si penulis hanya seorang
praktisi yang tidak memiliki basic
akademik ?”
Y : “Praktisi yang
fokus di bidangnya, mau terus menerus belajar dan berinteraksi dengan
lingkungannya secara serius, pasti akan jauh lebih memahami persoalan riel
seluk beluk pasar pembacanya dibandingkan akademisi yang hanya di belakang meja
dan tidak berinteraksi dengan lingkungannya. Lagian, kalau si penulis adalah
seorang praktisi, pasti akan kami imbangi dengan editor ahli yang basicnya akademisi agar tetap bisa
seimbang. Begitu juga sebaliknya.”
X : “Bagaimana jika si praktisi tersebut belum
punya bakat menulis ? Bahkan mungkin
belum mempunyai pemahaman menulis yang baik dan benar ?”
Y : “Kami percaya jika
menulis bukanlah bakat. Menulis ini murni hanya persoalan latihan saja. Begitu
juga dengan persoalan tata bahasa, itu bisa dilatih dan dipertajam sepanjang
kita mau. Toh materi tersebut pasti
pernah kita terima di bangku sekolah maupun kampus. Tapi yang penting bagi seorang praktisi dalam konteks penulisan
buku ini adalah dia harus mampu mengkomunikasikan gagasan, pikiran dan ilmu
yang dimiliki ke orang lain, sehingga orang lain tersebut bisa memahaminya
dengan baik. Memang, dalam hal ini sangat ditentukan oleh sejauh mana ia mau
berproses. Tapi intinya ini hanya persoalan pemahaman bahasa komunikasi saja.
Sebab buku pada dasarnya merupakan media informasi dan komunikasi bagi pembaca.
Selain itu, dalam teknis proses penyempurnaan tulisannya nanti akan dibantu
pula peran editor dan tim redaksi penerbit dalam menggawangi naskah tersebut
sebelum sampai ke tangan pembaca.”
X : “Tapi
bagaimana jika penulis belum memahami kebutuhan
pasar buku nasional ?”
Y : “Memang, pemahaman
terhadap peta pasar buku juga menjadi hal penting bagi penulis, namun itu
tidaklah mutlak dan hanya bersifat pendukung. Justru pemahaman terhadap bidang
yang dikuasai penulis itu yang bersifat mutlak . Sebab untuk urusan pemahaman
terhadap peta pasar buku ini menjadi bagian peran dan fungsi pentingnya
penerbit. Artinya, penerbitlah yang cenderung akan menggali kebutuhan pasar buku yang sesuai bidang garapannya
dengan berbagai analisa yang ada. Biasanya dirumuskan dalam bentuk konsep buku.
Setelah itu, kebutuhan pasar pembaca haruslah dipertemukan dengan orang yang
memiliki kompetensi di bidang tersebut (baik praktisi atau akademisi) yakni si
penulis. Soal teknisnya bisa dilakukan 2 arah. Penulis yang menjajaki penerbit
ataupun sebaliknya. Sehingga penerbit ada dasarnya adalah mediator dan
fasilitator bagi penulis dan pembaca. Sementara itu, penulis fokusnya justru
harus diarahkan bagaimana memaksimalkan potensi dan kompetensinya untuk
menghasilkan karya yang berkualitas sesuai dengan bidangnya.”
X : “Lalu apa
yang harus dilakukan penulis maupun calon penulis untuk ke sana ?”
Y : Kekuatan sebuah
buku sangat ditentukan oleh kekuatan isi yang dilatarbelakangi kompetensi si
penulis dan si penerbit dalam memahami kebutuhan pembacanya. Sehingga
pendekatan kualitas tulisan menjadi sangat utama. Sementara kekuatan dalam
percaturannya di pasar buku sangat ditentukan dari seberapa cerdas si penulis dan
si penerbit memainkan kreatifitasnya secara optimal di tengah persaingan buku
yang ada di pasar. Sebab, jika sudah
bicara pasar maka sebenarnya banyak hal yang berperan di dalamnya. Bukan hanya
kekuatan isi, namun juga kekuatan konsep buku, kemasan, jaringan distribusi dan
pemasaran (baik toko buku maupun non toko buku), display, kekuatan promosi,
jaringan penulis dan lain sebagainya. Intinya para penulis haruslah kompeten
dan fokus pada bidangnya. Sebab dari situlah yang menentukan ketajaman ilmu,
pengetahuan, skill yang ia miliki untuk menjawab kebutuhan pembacanya. Selain
itu, penulis harus mampu
mengkomunikasikan dengan baik serta
kreatif dalam berbagai hal. Sebab kekuatan kreatifitas inilah yang sejatinya
menjadi salah satu penentu kebertahanannya karyanya di tengah banyaknya karya
di sekelilingnya.
Ya, semua
orang pada dasarnya bisa jadi penulis. Jika saja mereka bisa menyadari,
menggali, dan mengoptimalkan potensi serta
kompetensi yang ada pada dirinya, lalu mau berbagi informasi ke orang lain
apapun motifnya. Semua orang pada dasarnya bisa menjadi penulis dan menerbitkan
bukunya, jika ia mempunyai naskah dan tidak ragu-ragu untuk mengirimkannya ke
penerbit yang tepat. Kesempatan itu terbuka lebar, namun tidak semua orang bisa
memanfaatkan dengan optimal. Percayalah, ini murni hanya persoalan kemauan dan
latihan.
Menulis satu paragraf buruk tetap lebih baik bagi penulis,
daripada banyak ide dan gagasan menarik namun hilang karena tidak dituangkan
dalam tulisan.
Salam Kreatif !